Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Hantu Artis Masa Lalu

Lima menit berlalu dalam kesunyian. Tiba-tiba api lilin bergerak-gerak meski tak ada angin yang berhembus.
“Mundur, Man!” bisik Nick. “Dia datang ...”

Rumah tua yang nyaris runtuh itu masih menyisakan
keindahannya di masa lalu. Sebuah bangunan yang pasti cukup mencolok di masa itu. Cukup mewah, karena pemiliknya adalah seorang selebritis. Banyak cerita yang beredar tentang rumah ini dan penghuninya.
Banyak cerita tentang kehidupan Rima Berlian, artis cantik yang pada tahun delapan puluhan cukup terkenal karena membintangi puluhan film layar lebar. Tentang tahun-tahun yang terlalu singkat, bagi karir dan popularitasnya sebagai seorang bintang film. Dan sebuah akhir yang tragis. Ketika dunia perfilman Indonesia ambruk, karirnya pun berakhir. Artis cantik yang masih hidup melajang itu mengalami depresi berat. Orang bilang ia mengalami apa yang disebut sebagai post power sindrome. Ia mengakhiri hidupnya di usia tiga puluh tahun dengan cara menggantung diri di kamarnya.
Rumah itu sudah beberapa kali berpindah tangan
kepemilikannya. Tak kurang dari lima kali, sampai
akhirnya dibiarkan terbengkalai, tak dihuni dan
akhirnya nyaris runtuh seperti saat ini. Rumah itu berhantu. Hantu Rima Berlian yang mati secara tak wajar. Hantu yang selalu meneror penghuni
rumah itu. Membuat mereka tak betah dan mereka
mengalami peristiwa-peristiwa aneh dan misterius,
bahkan mencelakakan. Banyak cerita seram yang
berakhir dengan perginya penghuni dari rumah itu.
Lalu datang penghuni baru, mengalami misteri yang
nyaris sama dan akhirnya tak kuat juga.
“Inilah rumah hantu itu. Disinilah dulu tinggalnya artis tempo dulu, tahun delapan puluhan bernama Rima Berlian itu ...” desis Arman yang menggigil. Ia
menggigil bukan hanya karena udara malam dingin
mengigit, juga karena perasaan gentar yang mulai
menguasai hatinya.
“Sebaiknya kamu batalkan maksud gilamu, Nick. Apa untungnya?”

Nick, sepupu Arman, baru sebulan tinggal di kota ini semenjak ia memutuskan untuk meneruskan SMA di kota ini dan meninggalkan kota kecilnya. Ia tinggal di rumah Om Heri, orang tua Arman. Nick cowok yang memiliki jiwa petualang dan menyukai pengalaman yang aneh-aneh. Dan hobinya yang sungguh aneh adalah memburu hantu. Sebuah hobi yang menurut Arman sangat
gila. Entah benar, entah bohong sekedar untuk
gagah-gagahan, tapi Nick mengaku memiliki banyak
pengalaman soal hantu. Ia bahkan mengoleksi beberapa benda keramat yang ia dapatkan di beberapa tempat angker. Arman pernah melihat keris dan batu berwarna hijau tua. Katanya benda-benda itu memiliki kekuatan magis.
“Ini tempat yang amat istimewa, Man. Aku sudah dapat merasakan auranya.” Nick tersenyum aneh. Mulutnya terlihat berkomat-kamit. Arman menduga, Nick tengah membaca doa-doa tertentu. Ritual memanggil arwah?
Tadi Nick sudah menjelaskan maksudnya sebelum
berangkat ke rumah tua ini. Ia ingin memanggil dan
menghadirkan arwah Rima Berlian. Ia ingin
berbincang-bincang dengan arwah artis masa lalu itu dengan media jalangkung!
Nick membuka pagar besi yang tak utuh lagi. Ia sudah menginjakkan kakinya di halaman berumput liar itu.
Malam gelap dan sepi. Amat sunyi. Bahkan suara
serangga pun tak terdengar.
“Tolong kamu ambil peralatanku, Man!”
Arman tersentak. Ia amat terkejut meski ucapan Nick sebenarnya cukup pelan. Arman menghela nafas berat. Ia merasa tak ada cara lagi untuk mencegah niat Nick. Ia hanya bisa berdoa dalam hati, semoga semua cepat berlalu dan berjalan baik-baik saja. Bukankah doa
bisa mengalahkan hantu dan setan? Arman takut, tapi ia meyakini hal itu.
Arman segera berlari menuju mobil yang diparkir di tepi jalan, tak jauh dari rumah tua itu.
Pintu depan mobil terbuka dan Rani beranjak dari
belakang kemudi.
“Nick nggak bisa dicegah!”
Rani mengeluarkan keluhan putus asa.
“Buka bagasi belakang, Ran!”

 Rani membuka bagasi mobil dan membantu kakaknya menurunkan beberapa buah benda. Sebuah keranjang bambu, beberapa batang bilah bambu, sebuah batok kelapa, sekian macam bunga dan kemenyan. Semua sudah Nick siapkan dari rumah.
“Sepupu kita itu memang gila. Mungkin ia seorang
maniak hantu!” Rani berkata kesal.
“Sudahlah. Kamu berdoa saja, semoga nggak ada
masalah. Kamu nggak usah ikut-ikutan, Ran. Tugasmu cuma mengemudikan mobil. Kamu hanya menunggu disini saja. Oke?”
Rani mengangguk dengan segan. Ia menguap dua kali.
“Jangan tidur dulu! Jangan melamun! Nanti kamu
kemasukan roh jahat!” hardik Arman.
Rani kembali ke belakang kemudi, menunggu. Sementara Arman segera membawa peralatan jalangkung itu dan menyerahkannya pada Nick yang sudah duduk bersila sambil terus berkomat-kamit. Mulutnya masih bergerak-gerak ketika ia mulai menata dan membentuk jalangkung. Sebuah buku tulis dan pensil ia letakkan di tanah, diterangi sebatang lilin yang menyala. Lima menit berlalu dalam kesunyian. Tiba-tiba api
lilin bergerak-gerak meski tak ada angin yang
berhembus.
“Mundur, Man!” bisik Nick. “Dia datang ...”
Arman melangkah mundur. Ia gemetaran. Ia tak ingin menerima resiko buruk yang tak diinginkan sehingga ia memilih mundur jauh dan mengawasi dari luar pagar.
“Jalangkung ... jalangsek ... datanglah ... datanglah
... disini ada pesta ...”
Api lilin bergerak makin liar meski tak ada angin.
Arman merasakan sekujur tubuhnya merinding. Dan ia terus berdoa, mohon keselamatan dari Tuhan.
“Aman, Man! Kamu boleh kemari dan memberikan salam!” teriak Nick tiba-tiba.
Arman ragu. Tapi karena dilihatnya Nick berdiri dan melambaikan tangan memberi isyarat untuk mendekat, keberanian Arman pun muncul kembali. Semua berjalan lancar atau justru gagal?

Dipenuhi oleh rasa penasaran, Arman mendekat. Ia
duduk berjongkok di belakang Nick yang kembali duduk bersila berhadapan dengan jalangkung. Nick menoleh ke arah Arman, tersenyum puas lalu menunjuk sebuah tulisan di buku tulis itu.
Hai! Senang berkenalan denganmu, Nick.
“Siapa yang menulis? Kamu sendiri?”
Nick tertawa kecil. Ia berkomat-kamit dan berbisik,
“Wahai jalangkung... benarkah kamu arwah Rima
Berlian, selebritis tahun delapan puluhan itu?”
Arman mengucak matanya kemudian melotot. Ia melihat batang bambu yang dirakit menjadi tangan itu bergerak. Pensil yang terikat di ujung batang bambu itu bergerak-gerak di atas kertas.
Waktu itu belum ada istilah selebritis. Aku Rima
Berlian. Artis, bintang film, calon penyanyi.
“Baiklah.” Nick terbatuk karena asap kemenyan. “Kapan
kamu meninggal dunia? Kenapa?”
Tulisan di buku tulis itu Produser gila! Ia menipuku. Ia ingkar! Aku kecewa
dan menggantung diri. 24 September 1990.
Arman tercekat menyaksikan tulisan itu. Hari ini 24 September. Hari ini tepat 15 tahun meninggalnya Rima Berlian. Arman memandang keheranan ke arah Nick, tapi Nick hanya tersenyum penuh kemenangan.
“Hehehe ...” Nick tertawa kecil. “Majalah-majalah tua di gudang kalian, Man. Koleksi ayahmu. Aku memang telah mengumpulkan bahan, membuat semacam riset dari majalah-majalah kuno milik ayahmu.”
Tahulah Arman kini. Ia maklum kenapa Nick ngotot
harus membuat jalangkung hari ini. Ternyata hari ini adalah hari yang sangat tepat untuk memanggil arwah Rima Berlian.
Siapa temanmu? Tulisan di kertas itu berhenti.
“Ini Arman, sepupuku. Lalu ada Rani, menunggu di
dalam mobil. Rani adiknya Arman. Dia cantik dan
bercita-cita jadi artis juga. Bulan depan ia ingin
mengikuti audisi untuk membintangi salah satu film
layar lebar. Hei, kamu senang mendengarnya, Rima?”
Nick berhenti sebentar, lalu, “Disamping sinetron,
sekarang film-film layar lebar mulai marak lagi.
Festival film juga diadakan lagi. Kamu senang?”
Agak lama barulah pensil itu bergerak menulis.
Jelek! Latah! Film-film nggak bermutu!
Arman tertawa membaca tulisan itu. Hm, arwah yang ramah dan bersahabat, batinnya. Arman mulai tertarik. Dan ia sesekali ikut bertanya dan menerima jawaban lewat tulisan dari arwah Rima Berlian. Kadang cuma pertanyaan lucu dan asal-asalan, tapi arwah Rima
Berlian dengan sabar menjawab semuanya.
Satu jam hampir berlalu.
“Bolehkah aku minta tanda tanganmu, Rima? Di halaman kosong untuk kenang-kenangan?”
Tiba-tiba halaman buku tulis itu membalik sendiri
lalu pensil bergerak. Sebuah tanda tangan yang cukup jelas terbaca. Tanda tangan Rima Berlian.
“Well, rasanya cukup!” teriak Nick yang
memperlihatkan wajah amat puas. “Sekarang waktunya kamu pulang dan kembali ke alammu. Terima kasih atas kebaikan kamu menjumpai dan berbincang dengan kami. Semoga kamu damai dalam tidur panjangmu, Rima ...”
Bersamaan dengan itu tiba-tiba angin berhembus amat kencang. Api lilin padam. Tempat itu kembali gelap. Terdengar hela nafas lega.
“Selesai sudah. Semua berjalan lancar, Man. Nggak terbukti ketakutan dan kekhawatiranmu, kan?”
“Semudah ini?”
“Ya. Kenapa? Nggak semua arwah orang mati itu jahat. Rima bukan figur jahat. Ia baik dan nggak
macam-macam.
” Nick mulai mengemasi dan membongkar jalangkungnya. “Yang luar biasa adalah, kita juga
mendapatkan tanda tangan Rima. Otentik! Asli! Kamu tahu, Man? Usaha kita malam ini bisa bikin heboh kalau kita publikasikan. Skandal kematian Rima Berlian, artis tempo dulu. Bukankah ini amat menarik untuk dikupas kembali?”
“Ah, siapa yang mau percaya pada tulisan jelek di
buku tulis, Nick! Kamu nggak usah bermimpi. Yang
penting malam ini urusan kita selesai dan kamu puas. Aku nggak mau lagi terlibat urusan hantu dan arwah seperti ini lagi.”
Keduanya lantas berjalan ke arah mobil. Mungkin Rani sudah ketiduran. Mungkin ia akan marah-marah karena telah satu jam menunggu.

 Tapi ternyata Rani tidak tidur. Ia tengah
menggerak-gerakkan kepalanya di belakang setir. Ia tengah bernyanyi-nyanyi kecil.
Usai menyimpan peralatan di bagasi, Nick dan Arman masuk ke dalam mobil.
“Pulang, Ran! Urusan sudah selesai. Sori, ya. Kamu
agak lama nunggunya ...” kata Nick.
Rani menghentikan lagunya. Ia menoleh sambil
menyeringai aneh.
“Jangan marah, Ran. Besok kita akan melakukan
petualangan baru yang menyenangkan. Besok hari
Minggu, kan? Kita akan pergi ke pantai dan naik
perahu ke Pulau Tiga.”
Arman menyodok perut Nick.
“Lupakan saja, Nick! Aku nggak mau! Kamu jalan aja sendiri! Pulau Tiga? Maksudmu Pulau Tiga Hantu, kan?” Nick tertawa terbahak-bahak.
Rani ikut tertawa mengikik, nadanya aneh. Kemudian Rani kembali bernyanyi, dengan suara lebih keras. Suaranya parau dan sumbang.
“Hentikan nyanyianmu, Ran!” tegur Arman sambil
menutup telinganya. “Hati-hati dengan nyanyianmu,
Ran. Dalam audisi nanti siapa tahu kamu disuruh
menyanyi juga.”
Rani seperti tak mendengar teguran kakaknya. Ia terus menyanyi dengan suara yang makin buruk.
“Sudahlah, Ran. Boleh jadi kamu memang pandai
berakting, tapi nyanyianmu memang sangat jelek!” Nick ikut mencela sambil menutup telinganya pula. “Ayolah, kita harus pulang sekarang juga.”
“Siapa bilang aku akan berakting lagi?” Tiba-tiba
Rani menoleh. “Aku memang ingin menyudahi karirku di dunia akting. Film buruk, iklim buruk! Selera berubah! Dunia film layar lebar sudah kiamat! Aku harus mengubah haluan. Aku ingin jadi penyanyi! Aku harus jadi penyanyi! Harus!”
“Rani?!” Arman membentak. Ketika Armar menoleh ke arah Nick, ia melihat wajah sepupunya itu telah pucat pasi.
“Anak-anak tolol!” Rani membentak amat keras. “Tidak bisakah kalian memanggilku dengan benar? Namaku Rima, bukan Rani! Aku Rima Berlian!”
Tiba-tiba mobil dihidupkan. Dan sebelum Arman dan Nick menyadari semuanya dan berbuat sesuatu, mobil itu telah melesat liar dengan kecepatan luar biasa meninggalkan tempat itu.
Read More … Hantu Artis Masa Lalu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tuhan itu Kejam....

Aku pijakkan kakiku di atas pulau Sumatera bagian barat ketika pesawatku mendarat di airport, Tabing,Sumatera barat. Berangkat dari benua Amerika utara dengan rombongan para tim medis yang siap meggapai korban-korban yang mulai nampak bergelimpangan dimana-mana. Jauh sebelum pesawat NGO terbesar di perancis ini mendarat di kota padang, nampak degup hatiku semakin tak menentu. Nampak dari atas pesawat kota itu bagaikan kota mati yang baru dimusnahkan oleh ribuan bom atom yang dijatuhkan. Semua keadaan nampak tak seperti sebuah kota hunian. Hanya tiga kata yang bisa aku ucapkan dalam hati tentang kota ini. Merata DenganTanah. ....Medicine Sans Frontier, sebuah NGO yang bermarkas di Perancis ini, adalah tempat sandaranku saat ini dan juga yang membawa ku kembali ke tanah air setelah bertahun-tahun hidup di benua Amerika demi segenggam ilmu yang bisa ku bawa pulang ke tanah air. Kini aku kembali, walau hanya untuk sebuah tugas kerja, dengan hanya sedikit ilmu di otakku. Berbekalkan sedikit pengetahuan tentang psikologi aku kini berada di tengah-tengah ratusan mayat yang bergelimpangan. Ratusan anak-anak orang tua, wanita-wanita nampak begitu trauma dan linglung. Wajah mereka penuh iba. Penuh penderitaan. Bahkan janin-janin yang sedang merangkul manis di dalam rahim ikut terancam akibat patahan lempengan bumi di dasar laut dengan kedalaman 87 km yang mengakibatkan gempa dengan kekuatan 7.6 SR. Jeritan-jeritan manusia yang tertimbun reruntuhan, kini masuk dan menggetarkan seluruh gendang telingaku.

“Awwwwww..... ......... ......... ......... .......”kakiku terhantuk dan sesuatu menghalangi gerak langkahku. Kulihat sepasang kaki menjulur sambil kuangkat sedikit bola mataku merunut dari ujung kaki tersebut hingga sampai pada tubuh seorang ibu yang sedang memeluk anaknya. Tapi kedua nyawanya kini telah meregang akibat tertimpa bangunan-bagunan rumah yang hancur.

Ah.......aku tak percaya semua ini, persis seperti kota athena yang sudah di luluh lantahkan atau persis seperti kota yang sudah di bantai habis-habisan oleh tentara kuda trojan. Tak ada lagi bangunan yang kokoh berdiri sampai 5 meter. Yang ada hanya bagunan-bangunan yang telah merata dengan tanah. Setiap kali aku langkahkan kakiku terdegar jeritan-jeritan baru anak-anak yang terhimpit reruntuhan sekolah mereka sendiri. Tak ada yang menolong mereka, karena tak ada yang mampu mengangkat puing-puing besar yang memerlukan alat berat untuk menghilangkannya. Lututku mulai terasa goyang, hampir tak mampu lagi berjalan diantara mayat-mayat yang bergelimpangan di setiap ujung kakiku. Lama sudah aku tinggalkan kota Padang yang menjadi asal-usulku sebelum aku tersesat di benua amerika, kini tak ada lagi kenangan-kenangan masa lalu yang pernah terukir di negeri jam gadang ini.

“toloooonggggggggggg gggggggggg. ......... .”, aku kenal suaranya. Iya...aku kenal.
“Igummmmmmmmmmmmmmmm mmm...... .....tolongggg”, aku balikan seketika badanku dengan seketika dan tak terasa kini aku seperti disambar petir secepat aku membalikkan badanku secepat itu pula inest menghamburkan badanya ke arah ku yang sudah tak kuat lagi menahan gravitasi tubuhnya sendiri. Dengan seketika aku langsung menopangnya agar ia tak terjatuh dan terhentak puing-puing yang semakin menggunduk.

“Mami....gummm. ......mami. ......”, suaranya sudah mulai hilang dan parau.
“Tenang nest...tenang. .. kenapa? dimana maminya?”, tanyaku sambil mencari-cari dimana seseorang yang disebut oleh nya mami.

“Mami Inesst...... .”, suaranya terdengar menggaungkan langit yang nampak suram diatas sana seakan hendak berbela sungkawa atas mayat-mayat yang tak terhitung jumlahnya. Terdengar suranya sudah mulai habis dan kini ia tak sanggup lagi meneteskan air mata yang sudah kering dan tumpah sedari tadi membasahi kota jam gadang ini.

Mataku semakin gencar mencar-cari manusia yang di maksud mami oleh inest diantara mayat-mayat yang bergelimpangan dihadapanku. Apa mungkin di antara puing-puing itu?, apa mungkin di atas rumah yang sudah roboh itu ?, apa mungkin diantara manusia-manusia yang tengah menjerit-jerit itu ?. Aku hampir tak kuat lagi menopang tubuh inesst yang semakin ditarik gaya gravitasi bumi.

Peralatan-peralatan medisku masih tetap menggantung di tangan kiriku sambil menahan tubuh inest ditangan kananku. Aku tak kuat rasanya melihat keadaan ini. Nyawa-nyawa manusia seakan begitu murah karena hanya berakhir diantara bongkahan-bongkahan semen yang dulu dibangun oleh diri mereka sendiri tapi kini menghimpitnya. Kaki ku kini terasa ditarik tarik oleh sebuah jari yang mencoba menggerayangi dan menggenggam pergelangan kakiku, aku alihkan mataku ke arah pergelanagan kakiku.

“Astagafirullah. ......... ya Tuhan......”, begitu mataku sampai di pergelangan kakiku, sewaktu itu pula jari-jari yang mencoba memegang kakiku pertanda meminta pertolongan mulai melemah dan hingga akhirnya tak bergerak sama sekali. Jari-jemari seorang anak kecil yang tubuhnya sudah menyatu dengan bangunan sekolahnya yang sudah roboh. Hatiku semakin remuk lebih dari puing-puing ini, genggaman tangan anak yang tertimpa puing-puing sekolahnya itu tak sempat aku balas dengan genggamanku, belum lagi aku sempat membuka kotak obat ku. Kini ia telah pergi untuk selamanya.

Aku mengusap air mataku yang sedari tadi mulai menetes tak terasa membasahi baju seragam kebanggaan NGO yang aku idam-idamkan sewaktu masih kuliah s1 dulu. Kini dari kejauhan aku nampak sesosok wanita tinggi semampai dan parasnya yang cantik, 5.5 out of 10.Lagi-lagi aku mengenalinya.

“Uni Selviiiiiiiii. ......... ......... Onde Maoy....baa kabaa uni ?”(apa kabar) tanya ku langsung ngga pake basa basi dan sekaligus kaget uni Selvi ada di kota padang.

“Iya uni baru sampai 5 jam yang lalu langsung dari Pulau Texel, Belanda, untuk meneliti lempengan bumi yang patah di laut yang persis berada di daerah Pariaman”, sambung Uni Selvi yang baru aja merampungkan studinya di bidang fisika kelautan persis 2 hari sebelum sang gempa menjilat Sumatera barat.

Tiba-tiba kami terperanjat oleh suara yang sangat familiar sekali ditelinga kami dan menjerit dengan nada kesedihan yang ditemani tetesan air mata yang kini nampak telah menggenangi kelopak matanya.

“Ya Allah........apa sebenarnya yang terjadi sama kita semua yah ?”, suara Mela yang kini berada di lapangan sekaligus meliput berita-berita tentang kejadian gempa yang disiarkan langsung untuk radioppidunia.

“Entah lah Mel.....aku sudah tak bisa lagi berfikir yang berat-berat. ...semua tempat-tempat dulu aku bermain, tempat aku berlari-lari, berkejar-kejaran,bermain ayunan.....kini semuanya telah hilang dan musnah....tempat itu sudah tiada lagi, yang ada hanya kenangan-kenangan masa kecil yang masih tetap terukir di dalam benak”, jawab Inest yang nampak masih tak sanggup untuk menggangkat kepala sepenuhnya dan masih bersandar di pundakku.

“Apa semua ini ada hubunganya dengan ulah kita ? “,tanya Mela yang sudut matanya juga telah membengkak sambil menyeka air mata yang sedikit memburamkan pandangan matanya.

“Iya... alam ini jika dilihat secara scientific mempunya batasan-batasan dan standar...jika ia terus di eksploitasi oleh manusia, maka secara natural, standar alam untuk bekerja itu bekerja dengan tetap menjamin keselamatan manusia sudah semakin menurun dan mungkin menjadi tidak teratur yang akan membahayakan manusia itu sendiri”, jelas uni Selvi yang nampak masih segar dengan rumus-rumus fisika kelautanya setelah beberapa tahun bertapa di pulau texel, Belanda.

“Tapi, bukankah bumi ini diciptakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan manusia ?”, tanyaku pada uni Selvi.

“Betul...bahwa bumi yang telah diciptakan tuhan ini hanya untuk manusia akan tetapi bukan berarti manusia itu bebas untuk mengeksploitasi sesuai isi perutnya, karena di muka bumi ini penghuninya tidak hanya manusia tetapi juga ada tumbuhan dan binatang pada prinsipnya bahwa manusia boleh menggunakan apapun dalam dunia ini asalkan sesuai kadarnya”, penjelasan uni Selvi benar-benar menunjukan seorang gadis yang ke ibu-ibuan.

“Kadarnya yang seperti apa ?”, tanya ku kembali kepada uni Selvi.

“Kadarnya adalah kesederhanaan yang tidak kekurangan dan juga tidak berlebihan. Dalam kata lain manusia seharusnya menggunakan isi bumi untuk seperlunya bukan semaunya”, jawab uni Selvi yang benar-benar telah teruji tidak hanya ahli di bidang fisika kelautan tetapi juga dibidang filsafat science.

Ah.... kembali aku tak kuasa mendengar jeritan-jeritan anak-anak sekolah yang tertimpa tempat mereka belajar dan masih meminta tolong agar diselamatkan. Jeritan anak-anak itu membuat semua aliran darahku seolah terhenti dan aorta ku tak mampu lagi memompa darah ke seluruh tubuhku. Kini jeritan-jeritan anak itu masuk ke setiap lipatan-lipata otakku hingga masuk menerobos ke lapisan-lapisan protein DNA ku.

“Uni Selvi dan Mela aku mau tanya ”, sambil terbayang-bayang wajah anak-anak sekolah yang begitu lugunya untuk menahan himpitan tembok yang nampak semakin bengis tak mau berdiri dan hengkang.

“Iya.....”, mereka berdua mempersilahkan.

“Kalau tuhan itu memang ada... dan katanya tuhan itu maha pengasih dan maha penyayang, tapi kenapa Dia menimpakan semua ini pada manusia ? Kenapa tuhan begitu Kejam?memusnahka ratusan nyawa manusia hanya dalam hitungan menit tak ada yang lebih berharga di dunia ini selain nyawa dan nyawa”,tubuhku mulai terasa gontai dan tak sanggup lagi menahan lengkingan suara anak-anak yang masih tertimpa puing-puing sekolah mereka.

“Tuhan memang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, hingga ia menciptaka segalanya untuk manusia...apapun dimuka bumi ini adalah untuk manusia itu menunjukan bahwa tuhan benar-benar sayang dengan ciptaaNya tapi ingat !!! dalam alam ini ada sebuah hukum yang mengatur cara kerja alam termasuk bumi dalam bahasa fisika nya ini lah yang disebut dengan Natural.Seperti halnya hukum, ia selalu mempunyai dua sisi: Aksi dan Konsekuesi”, jelas uni Selvi yang agak sedikit menggantung. Otakku agak sulit mencernanya dasar otakku memang bebal semenjak dibangku SD dulu. Juga tidak ketinggalan mela yang mengangguk-ngangguk nampak seperti orang yang paham, gayanya selangit.

“Maksud uni apa dengan aksi dan konsekuensi ?”, tanya Inest yang masih mencintai jurusan perikanan disebabkan karena masa kecil yang sangat akrab dengan laut persis berada di belakang rumah.

“Seperti halnya hukum, bahwa ia harus ditaati.Jika tidak, maka ia akan memberikan konsekuensi yang menyebabkan kehidupan dan tatanan sosial menjadi tidak harmoni.Begitu juga dengan hukum alam, jika ia tidak dijaga dengan baik seperti dieskplotasi habis-habisan, maka isi kekayaan alam itu pun akan berkurang yang menyebabkan kemampuan bumi untuk bekerja itu berkurang. Oleh karena itu dengan sendiri nya kinerja bumi tidak lagi menjadi harmoni sebagai dampaknya penghuni bumi itu sendirilah yang akan menanggung akibat perbuatanyanya terhadap bumi So, bukan tuhan yang kejam tapi manusia itu sendirilah yang melanggar hukum-hukum alam yang sudah ditetapkan agar bumi ini dapat berjalan dengan harmoni”, penjelasan uni Selvi benar-benar logis dan religi.

“Jadi seharusnya bagaimana agar kita tidak melanggar natural (Hukum Alam) ?”,tanya ku yang semakin ingin tahu dan sekaligus ingin tahu segala pengetahuan yang ada di balik kepala wanita yang tinggi semampai ini.

“Simple saja....pelajari dulu tentang alam (Hukum Alam) sebelum manusia menggunakan alam dan jangan lupa !!!tahan nafsumu untuk tidak berlebihan dengan alam”, jawab uni Selvi ringkas dan padat.

Kini jeritan-jeritan orang yang terkubur dan terhimpit di hotel ambacang yang 3 lantai pertamanya ambalas masuk ke tanah mulai terdegar sayup-sayup ditiup angin malam hingga sampai ke lubang telinga kami. Aku berusaha tak mendengar karena tak mampu menahan bayangan diotakku akan manusia-manusia yang tenggorokannya terhimpit puluhan kilo puing-puing bangunan.

“Lalu bagaimana dengan 60 siswa dan pegajarnya yang semuanya terhimpit oleh bangunan tempat mereka belajar dan juga bagaimana dengan hotel yang sedang dihuni 200 tamu tiba-tiba lenyap masuk ke dalam tanah?sementara para bangsat-bangsat kelas atas yang mengatas namakan orang-orang miskin demi kepuasan nafsunya sendiri,korupsi dan kolusi mereka tak pernah tersentuh dengan berbagai gempa dan becana ?lalu dimana letak keadilan Tuhan ?kalau begitu aku tidak percaya bahwa Tuhan itu adil”, nada aku agak sedikit emosional.

“Kita bukan Tuhan kita hanya ciptaan Tuhan maka kita tidak akan pernah tahu rahasia tuhan...”, kalimat-kalimatnya menyetuh mozaik-mozaik kehidupanku kehidupan dengan nilai-nilai sufistik.

“Maksudnya uni?”, tanya mela yang nampak tidak mengerti setetes pun apa yang keluar dari pita suara uni Selvi.

“Terkadang kita terlalu memandang bahwa kematian adalah suatu hal yang berkonotasi negatif...karena kita selalu memandang kematian adalah sebuah akhir dari kehidupan dunia yang mana kita terlalub posesif untuk memiliki segalanya. Maka, kematian dilihat sebagai sebuah perpisahan dengan segala kenikmatan yang dipinjamkan oleh tuhan itu “, uni selvi mencoba menghela nafas.

“Terkadang kematian mungkin hal yang terbaik bagi manusia, karena bisa saja jika tuhan menambah panjang umurnya maka manusia itu akan semakin banyak membuat kerusakan di muka bumi ini atau kematian bisa saja sebagai cara tuhan agar manusia itu tidak terjerumus kepada hal-hal yang penuh dosa atau mungkin kematian adalah salah satu refleksi sifat kasih sayang tuhan yang tidak menginginkan hambanya terlalu banyak bergelimang dalam dosa seperti halnya para koruptor-koruptor bukankah kehidupan akhir nan kekal lebih baik daripada kehidupan yang dunia yang hanya bersifat sementara?”, pertanyaanya membuatku tersentak akan masa lalu ku yang suram.

“Tuhan memang memberikan mereka(Para Pembuat Dosa) umur yang panjang dan kesenangan yang melimpah ruah, tapi jangan lupa !!! segala yang mereka punyai akan dimintai pertanggung jawabanya nanti.Bagaimana mereka mendapatkan dan menggunakan kesenangan itu ? Apakah dengan cara yang baik atau tidak?jika tidak maka mereka akan bermain dalam ayunan ke nestapaan untuk selamanya nanti”, uni Selvi nampak mulai lelah setelah memberikan wejangan-wejangannya yang masih beraroma pulau texel.

“Tuhan memang adil.....apa yang dimata kita nista tapi mungkin saja hal itu adalah surga dimataNya, tapi begitu juga sebaliknya apa yang dimata kita surga mungkin saja itu neraka di mataNya”, mela yang dengan tiba-tiba tak disangka kini IQ nya melejit mampu untuk menyimpulkan obrolan-obrolan kelas tinggi para manusia setengah dewa.

Hari mulai gelap. Gerimis rintik-rintik mulai turun membasahi setiap puing-puing dan tenda-tenda bantuan. Langit berubah menjadi kelam dan menangis deras menurunkan air matanya menyirami ratusan-ratusan mayat yang masih tergeletak di ranah minang. Aku masih membopong Inest, yang masih mencari mami-nya, untuk masuk ke tenda posko bantuan yang sudah dipenuhi warga-warga yang nampak terkulai dan terluka. Uni Selvi kembali ke pos-nya untuk melanjutkan penelitiannya. Mela masih tetap giat mencari berita untuk dapat disampaikan langsung kepada para sobatradioppidunia.

Aku masih tetap termenung di bawah cahaya lampu tempel yang sesekali ditiup agin malam. Sejenak aku penjamkan mata yang tetap tertesi hujan yang menemani memoriku kembali terbayang beberapa tahun yang silam ketika aku masih kecil dulu.Nenekku menuntun aku berjalan menyusuri pantai pasir putih sambil mendongengkan hikayat-hikayat nenek moyangku seorang pencari ikan. Karena kami orang laut yang membangun sebuah rumah panggung di tepi pantai tempat kami mencari hidup. Dan kini rumah itu telah lenyap, runtuh, luluh-lantah dan merata dengan tanah. Jeritan-jeritan tolong masih tetap terdengar dari kejauhan dari mereka yang tertimpa puing-puing besar. Suara-suara mereka mulai pelan perlahanhingga kemudian hilang seiring dengan berlalunya malam.


Sumber : http://cerpen.net/cerpen-dewasa/tuhan-itu-kejam.html
Read More … Tuhan itu Kejam....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS